itil practitioner itil implementation itil service manager itil help desk online

Service Plus Sex

Thursday, January 12th, 2017 - Kimcil
Itil Support

Aku memenuhi panggilan untuk service computer di kantor
pelangganku di daerah perumahan mewah. Karena hari
sudah menjelang sore dan hari itu adalah sabtu, maka di
kantor itu tidak ada lagi orang kecuali seorang sekretaris
yang memang ditugaskan untuk menungguku. Dia
mengenalkan diri dengan nama Mariska, dan minta
dipanggil dengan Kika saja. Namanya lucu, selucu
orangnya yang memang berwajah cantik imut-imut, polos
tapi terkesan sensual. Dandanannya sangat sederhana,
yaitu dengan blouse hitam pendek dan rok mini abu-abu
serta sepatu tinggi terbuka, namun sangat kontras dengan
warna kulitnya yang putih mulus. Apalagi dengan postur
tubuhnya yang tinggi dan ramping, makin menampakkan
keindahan kakinya yang jenjang.
Kika menemaniku sambil mengobrol selama aku bekerja,
sehingga kami cepat akrab. Keakraban ini yang membuat
sikapnya santai dan cuek dengan duduk seenaknya di
pinggir meja computer, sehingga terkadang memancing
mataku untuk memandang kemulusan pahanya yang mulus
dibalik rok mininya yang super pendek itu. Peniskupun
mulai berontak di balik celana, dan cukup membuat
konsentrasiku agak buyar. Namun aku berusaha
menutupinya dengan mempercepat pekerjaanku.
Setelah selesai kupersilahkan Kika duduk di kursi untuk
mencoba komputernya, sementara aku mengambil kursi dan
duduk di sampingnya sambil memberi instruksi cara
mengeceknya. Cukup sabar dan serius Kika mengecek satu
persatu software yang ada sambil mengcopy kembali file-
file dari disket backup ke hard disk yang membuatnya
cukup berkeringat, apalagi AC di ruangan tersebut sudah
mati sejak semua karyawan pulang. Aku kemudian
memberanikan diri untuk menawarkan memijat bahunya.
“Kika mau nggak dipijat?”, kataku sambil menggeser
kursiku ke belakangnya.
“Dari tadi kek nawarinnya …, ayo cepet mulai …”, jawab
Kika sambil menegakkan badannya.
Kedua tanganku kunaikkan dan mulai memijat pelan
bahunya.
“Enak, enak banget deh pijetan Mas …, komputernya kan
sudah di service, nah sekarang orangnya donk di service …”,
canda Kika.
“Iya deh …, mau service plus juga boleh …”, kataku lagi.
“Apa tuh service plus? …, kasi contohnya donk …”, pinta
Kika.
“Wah kesempatan nih”, pikirku sambil lebih mendekatkan
tubuhkuu ke kursinya. Tanganku mulai kuturunkan ke
samping lengannya dan terus menelusuri tangannya, bukan
dengan pijatan tapi dengan menggeser halus jari-jari
tanganku.
“Ssssh …, geli deh Mas”, rintih Kika yang membuatku makin
bernafsu. Apalagi dari jarak yang makin dekat tercium
harum tubuhnya yang alami itu. Segera kugeser kursiku ke
sampingnya, kuangkat tangannya dari mouse dan mulai
kudaratkan bibirku di jari-jarinya yang ramping terus
bergeser ke atas. Kika nampak pasrah menyerahkan
tangannya kuciumi sambil menggeliat pelan. Penisku
kembali menegang merasakan kehalusan kulitnya yang
putih bersih dan berbulu tipis itu. Kika menggelinjang
hebak ketika ciumanku sampai di siku bagian dalam. Belum
lagi Kika berhenti mendesah, langsung kupindahkan bibirku
ke pipinya dan terus bergeser ke belakang telinganya.
Sementara itu, posisiku yang kembali berada di
belakangnya memudahkan tanganku bergerilya. Melalui
samping badannya, kedua tanganku bergerak perlahan ke
depan sehingga menyentuh kedua bukit dadanya.
“Mmh … mmmhh …”, rintih Kika ketika jari-jari tanganku
kuputar-putar di sekitar buah dadanya yang masih
terbungkus lengkap. Dari situ saja bisa kubayangkan
bentuk buah dadanya yang indah. Tidak begitu besar tapi
terasa kencang, bulat padat dan masih tegak. Sambil lalu
kuremas-remas lembut kedua bukitnya, bibirku kuturunkan
lagi ke samping lehernya yang jenjang. Kulitnya yang
sedikit berkeringat melicinkan jalannya bibir dan hidungku
menelusuri hingga ke tengkuknya yang bebas karena
rambutnya yang diikat ke belakang. Harum parfum
bercampur keringat di kulit tengkuknya yang halus dan
berambut tipis itu kuhirup habis-habisan, sehingga
membuat Kika makin sering menggeliat kegelian.
“Mas …, udah Mas …, gelii…”, kata Kika yang kemudian
maju melepaskan diri dariku dan memutar kursinya
menghadapku.
“Liat nih, sampai merinding semua …”, katanya sambil
menjulurkan tangannya ke depan.
“Itu belum seberapa, sekarang coba deh kamu duduk di
meja”. Kika langsung menuruti perintahku duduk di
pinggiran meja lalu menyilangkan kakinya. Rok mininya
yang pendek itu tersingkap sedikit dan membuatku yang
duduk di depannya terpana melihat kemulusan pahanya.
Aku mendekatkan diri lalu kutarik satu kakinya dan kutaruh
ujung kakinya di atas pahaku.
“Kaki Kika bagus sekali ya…”, kataku sambil kuusap lembut
lututnya dan terus ke bawah hingga punggung kakinya yang
masih bersepatu.
Pelan-pelan kulepas sepatunya dana kupegang kakinya
dengan tangan kiriku, sementara jari-jari tangan kananku
kumainkan di seluruh permukaan kulit kakinya. Tak pernah
kulihat kaki seindah ini. Kulitnya halus, putih, dan mulus.
Kukunya polos tak dikutek, menampakkan kebersihan jari-
jari kakinya.
“Geli ih …, mau diapain sich Mas?”, tanya Kika.
“Khan katanya mau diservice plus, musti dari ujung kaki
dulu”, jawabku sambil mendaratkan bibirku ke punggung
kakinya lalu kugeser pelan kearah mata kakinya, terus
kucium pelan-pelan ke betis dan pahanya sambil kuelus
dengan pelan dan lembut.
“Sshhh …, nikmat sekali Mas …”, rintih Kika yang sepertinya
baru pertama kali ini diperlakukan seperti ini. Dari rintihan
menjadi gelinjangan. Aroma khas dan kelembutan kakinya
membuatku semakin bernafsu untuk menjelajahi setiap inci
dari kaki Kika.
Tubuh Kika terus menggeliat menahan kenikmatan. Kika
tidak lagi perduli posisi rok mininya yang sudah tersingkap
jauh ke atas. Yang ada hanyalah pemandangan indah
kemulusan paha bagian dalam dan gundukan vaginanya
yang masih tertutup segitiga CD hitam semi transparan
mini. Kedua tanganku mendahului bibirku yang masih
menjalar sepanjang kakinya yang jenjang, dengan
mengelus naik turun sepanjang pahanya dan menyentuh
gundukan vaginanya.
“Ahh … sshhh”, desah Kika kegelian waktu tanganku mulai
menyentuh halus CD-nya pas di depan vaginanya
menyentuh klitorisnya. Ternyata CD-nya sudah basah
merasakan seranganku sejauh ini. Tanpa menunggu lebih
lama lagi, kutarik CD-nya melalui kedua kakinya. Kika yang
sudah sangat terangsang tidak menolah, bahkan ikut
meluruskan kaki agar mudah terlepas. Begitu pula waktu
kedua kakinya kurenggangkan, Kika hanya pasrah saja.
Disitulah aku melihat pemandangan yang sangat
menggemaskan dan menggairahkan, vaginanya yang
rambutnya dicukur rapi dan labianya yang berwarna merah
muda basah sangat menantang. Kepalaku langsung
kubenamkan di selangkangannya setelah sebelumnya
menyusuri bagian dalam pahanya dengan ciuman dan
jilatan lidahku.
“aaahhh … aauuww ..”, erang Kika ketika kukecup lembut
vaginanya. Aromanya yang khas dan kebersihan vaginanya
itu membuatku makin bernafsu. Erangan Kika semakin
kencang dan sering ketika lidahku mulai menyusuri seputar
bibir vaginanya. Pinggulnya bergoyang kian kemari
merasakan kenikmatan, dan sesekali punggungnya
melengkung waktu jilatanku mencapai klitorisnya.
Tangankupun tidak tinggal diam dengan membuka kancing
blouse hitamnya sehingga bukit dadanya yang masih
berbalut BH hitam tipis itu menyembul ke atas. Langsung
kutangkupkan dan kuraba tanganku di atasnya sambil
meremas-remas lembut kedua bukitnya. Kika meronta-
ronta merasakan kedua bagian sensitifnya diservice.
“Aku mau keluar Maasss …., aahhh”, teriak Kika. Kedua
tangannya menjambak rambutku dan menekan kepalaku
rapat ke arah selangkangannya dan klitorisnya. Sementara
kedua kakinya makin dibuka lebar dengan ujung kakinya
mencengkeram kuat ujung-ujung meja. Akupun mengerti
kemauannya. Kupercepat jilatan dan hisapan pada
clitorisnya, dengan sesekali mengeraskan lidahku yang
menusuk-nusuk lubang vagina dan klitorisnya. Tiba-tiba
Kika berteriak berbarengan dengan membusurnya
punggung Kika ke atas dan membanjirnya cairan
vaginanya. Kika tergolek lemas membiarkan tubuhnya
telentang di atas meja, sementara aku yang sudah
memuncak birahiku segera membuka seluruh pakaianku
dan duduk kembali di kursi dalam keadaan bugil.
“Wow …, besar sekali Mas …”, kata Kika yang sudah turun
dari meja dan melihat penisku menegang.
“Buka bajumu deh Cik”, kataku memerintah pelan.
Kika yang memang penasaran ingin tahu semua serviceku,
menurut saja dengan pelan-pelan membuka blousenya, rok
mini dan terakhir BH-nya. Kembali terpampang
pemandangan indah di hadapanku. Dalam posisi diam
berdiri jelas sekali keindahan tubuhnya yang ramping
dengan kulit yang putih bersih dan halus mulus. Kedua
bukit dadanya tidak terlalu besar namun bentuknya
sempurna, ranum, bulat, padat dan tegak menantang.
Putingnya kecil berwarna merah muda, sangat kontras
dengan warna kulitnya yang putih. Aku menelan ludah
memandangnya dan ingin segera kulumat seluruh
tubuhnya.
Tanpa menunggu lama, kutarik tangannya ke arahku dan
kusuruh Kika duduk di atas pegangan kursiku dengan
menjepitkan kedua kakinya yang jenjang itu ke badanku.
Kembali Kika hanya menurut sambil menunggu apa yang
akan kulakukan. Posisi buah dadanya persis di depan
wajahku, tapi aku belum mau ke sana. Kutundukkan
kepalanya dulu dengan tanganku, dan kucium lembut
bibirnya. Kumainkan lidahku di sepanjang bibirnya yang
mungil sensual itu, lalu masuk ke dalam memilin-milin
lidahnya dan keluar lagi memagut mulutnya dengan ganas.
“mmmph … mmmm”, erang Kika yang agak kaget namun
menikmatinya, bahkan melumat bibirku dengan penuh
nafsu. Kesempatan ini kupergunakan dengan menurunkan
tanganku kea rah dua bukit dadanya, dan langsung
meremas serta memilin-milin putingnya yang mungil
hingga terasa mengeras dan tegak di jari-jariku.
Kika menggeliat tak beraturan merasakan nikmat hingga
tubuhnya ditegakkan ke belakang sambil melepas
ciumanku. Kini kedua bukit dadanya yang ranum berada
tepat di depan wajahku. Muncul ideku untuk bermain-main
dulu dengan menciumi lehernya yang jenjang dan terus ke
samping telinganya. Kika menggelinjang kegelian dan
membuat hidung dan bibirku terus menjalar ke bahu lalu
menerobos ke ketiaknya yang bersih dan tak berbulu itu. Di
situ kuhirup sepuas-puasnya aroma ketiaknya yang khas
dan alami. Saking gelinya, Kika mengatupkan lengannya
hingga kepalaku terbenam di ketiaknya sampai aku sulit
bernapas.
Setelah berhasil melepaskan diri, kugeser bibirku pelan-
pelan beranjak ke arah bukit dadanya yang telah
menunggu. Sambil kutahan kedua tangannya rapat ke
samping tubuhnya, mulai kujelajahi dengan ciuman dan
jilatan-jilatan dari bawah buah dadanya, terus kesamping
lalu ke tengah di antara kedua bukitnya yang hangat dan
licin oleh keringat. Kuselang-seling antara kecupan, gigitan
dan hisapan di kulitnya yang lembut. Kika rupanya sudah
tidak sabar menunggu bagian paling sensitifnya di bukitnya
untuk kuservice.
“Ayo dong Maass …., isep, pleaaasee”, pintanya sambil
memindahkan posisi buah dada kanannya tepat di depan
mulutku. Aku memang sengaja menggodanya dengan
mendiamkannya sebentar sambil memandang keindahan
putingnya yang mencuat mengeras itu. Pelan-pelan
kupindahkan kedua tangannya menjulur ke depan
berpegangan pada bagian atas senderan kursiku sehingga
badannya lebih condong ke depan. Kusambut sodoran
puting dadanya yang kanan dengan jilatan lidahku yang
berputar mengitarinya, baru kemudian kujilat-jilat panjang
persis orang makan ice cream. Kika menggelinjang hebat
merasakan kenikmatannya, apalagi tanganku ikut bermain
di puting dadanya yang kiri. Jilatanku kemudian berganti
dengan hisapan-hisapan halus di kedua putingnya
bergantian.
Goyangan badan Kika yang hebat itu membuat vaginanya
beberapa kali menyentuh ujung penisku yang berdiri tegak
tepat di bawahnya. Kika melonggarkan jepitan kakinya ke
tubuhku sehingga pinggulnya bisa naik turun dengan
bebas, dan “bluss ..”, masuklah penisku ke lubang
vaginanya yang telah basah, makin lama makin dalam
bersamaan dengan rintihan Kika. “Eemmhh … ahh”, rintih
Kika sambil menggerakkan badanya yang ramping itu naik
turun. Tangankupun tak tinggal diam dengan memegang
bongkahan pantatnya yang bulat kenyal, dan membantu
mengikuti gerakannya. Kadang kutahan pantatnya agar aku
bisa bergantian menusuk penisku dari bawah sementara
Kika pasif. Ini membuat Kika makin kuat mengerang nikmat,
dan kembali dia mengambil inisiatif menggerakkan
badannya yang makin lama makin cepat dan liar.
Sementara itu, buah dadanya yang terlepas dari mulutku
nampak bergoyang-goyang dengan indahnya. Kudekatkan
wajahku sehingga putingnya selalu bersentuhan dengan
hidung atau bibirku setiap kali melewatinya. Kadang kujilat,
kadang kutangkap putingnya lalu kusedot sebentar dan
kulepas lagi. Kika keenakan, bahkan sengaja
mencondongkan buah dadanya ke depan. Tangannya
dijulurkan ke belakang pasrah, kakinya makin
mengangkang, dan goyangannya makin menjadi. Tiba-tiba,
“Aaaaggghhh ….”, erang Kika keras bersamaan dengan
tubuhnya yang mengejang dengan posisi kepalaku didekap
erat di antara bukit dadanya.
Belum lagi Kika beristirahat, kusurh dia berdiri dan
membalikkan tubuhnya kearah meja dengan tangan
bertumpu pada pinggiran meja. Aku kemudian berdiri di
belakangnya dan langsung meremas buah dadanya dari
belakang, sementara mulutku mulai menjalar ke belakang
telinganya dan tengkuknya. Kuhirup seluruh aroma
belakang tubuhnya dengan hidungku bergantian dengan
jilatan dan gigitan kecil. Sementara tangan kiriku terus
meremas dan memilin putingnya dan bukit dadanya, tangan
kananku menyusup ke vaginanya, sehingga Kika meronta-
ronta kenikmatan merasakan tiga permainan sekaligus.
Pantat Kika yang bergoyang-goyang ke sana ke mari
membangkitkan birahi.
Tanpa menunggu lama lagi, kulepaskan semua pekerjaanku
dan kugantikan dengan sodokan penisku yang masih
menegang ke vaginanya. Kika menjerit kecil tidak menduga
akan disodok dari belakang tiba-tiba, namun pasrah
menikmati datanya nikmat baru, bahkan tanganku juga
ditariknya menyusup ke buah dadanya. Sambil memompa
penisku makin lama makin cepat, tanganku meremas dua
bukitnya yang kenyal itu. Kika rupanya hampir mencapai
klimaks lagi. “Mas … aku mau dapat lagi nih …, aku pengen
dari depan aja yah …”, kata Kika sambil merintih. Kontan
kucabut penisku, dan membalikkan tubuhnya telentang di
atas meja, dan langsung kumasukkan lagi ke lubangnya
yang sudah basah itu. Kakinya mengangkang bebas
memudahkan pinggulku memompa maju mundur sehingga
terbenam seluruhnya yang membuat Kika menggelinjang
setiap sodokan.
Ketika gerakanku makin cepat, Kika makin tak tahan dan
memindahkan kakinya menjepit pinggangku. Vagina Kika
menjadi semakin sempit, namun tak mengurangi
genjotanku, sampai tiba-tiba, “uugghhh ,,,, ahhhh …”, teriak
Kika berbarengan dengan jepitan kakinya yang mengencang
dan tubuhnya yang melengkung ke atas. Kubiarkan penisku
yang masih kencang terbenam di vaginanya sampai pelan-
pelan tubuhnya mengendur.
“Mas koq belum dapat juga sich …”, lirih Kika sambil
setengah duduk di meja.
“Aku mau keluarin di sini aja boleh nggak Ka?”, tanyaku
sambil menyentuh bibirnya yang mungil itu.
Mata Kika terbelalak tapi kemudian menyetujuinya dengan
turun dari meja dan langsung berlutut di depanku. Kika
rupanya ingin membalas service ku dengan mengoral
penisku. Kika melakukannya dengan maksimal dan
sepenuh hati, dengan bibirnya, lidahnya dan permainan
sedotannya. Perlakuan ini membuatku makin terangsang
dan merasakan akan keluar. Dan …, “Aku keluar Ka …
ugghh …”, erangku bersamaan dengan semburan maniku ke
dalam mulutnya. Begitu selesai, aku dikagetkan dengan
hisapan dan jilatan Kika, menyapu bersih seluruh mani
yang keluar.
Aku kemudian mengangkat tubuhnya dan mengajak ke
teras belakang untuk cari angin.
“Mau ngapain di teras Mas?”, tanya Kika terheran-heran.
“Aku pengen menutup service plusku dengan mandiin
kamu”, kataku.
“Gimana mandiinnya?”, tanya Kika bertambah heran tapi
nurut saja ketika kurebahkan tuubuhnya di atas kursi
panjang di teras belakang yang sepi itu.
Tanpa menunggu lama, segera kuakhiri service plusku
dengan mandi kucing, kujilat-jilat dan kukecup lembut
seluruh tubuhnya yang tampak bertambah indah karena
bermandikan matahari sore. Kika senang sekali dengan
perlakuanku itu dan puas dengan seluruh service plusku,
dan sambil mendesah kenikmatan dia berjanji akan sering-
sering memanggilku, tentunya untuk minta dilayani dengan
service plusku.

Itil Reviews
Service Plus Sex | lubangmanja | 4.5