itil practitioner itil implementation itil service manager itil help desk online

CERITA DEWASA TANTE SEXY

Wednesday, January 11th, 2017 - Kimcil
Itil Support

cerita dewasa
janda muda tentang
pemerkosaan rina di Villa
Bogor. Selamat membaca
cerita dewas pemerkosaan
ini.
Pada suatu pagi telepon di
kamarku berbunyi, dengan
malas kupaksakan diri
mengangkatnya. Ternyata
telepon itu dari Pak Riziek,
tukang kebun dan penjaga
villa-ku. Rasa kantukku langsung hilang begitu dia
menyuruhku untuk segera datang ke villa, dia bilang ada
masalah yang harus dibicarakan di sana. Sebelum kutanya
lebih jauh hubungan sudah terputus. Hatiku mulai tidak
tenang saat itu, ada masalah apa di sana, apakah
kemalingan, kebakaran atau apa. Aku juga tidak tahu harus
bertanya pada siapa lagi saat itu karena saat itu kedua
orangtuaku sedang di luar kota.
Segera setelah siap aku mengendarai mobilku menuju ke
villa-ku di Bogor, tidak lupa juga kuajak Rina, sahabatku
yang sering pergi bareng untuk teman ngobrol di jalan.
Sesampainya di sana, kami disambut oleh Pak Riziek,
seorang lelaki setengah baya berumur 60-an, rambutnya
sudah memutih, namun perawakannya masih sehat dan
gagah. Dia adalah penduduk desa dekat villa ini, sudah 4
tahun sejak ayahku membeli villa ini Pak Riziek ditugasi
untuk menjaganya. Kami sekeluarga percaya padanya
karena selama ini belum pernah villa-ku ada masalah
sampai suatu saat akhirnya aku menyesal ayahku
mempekerjakannya.
Pak Riziek mengajak kami masuk ke dalam dulu. Di ruang
tamu ternyata sudah menunggu seorang pria lain. Pak
Riziek memperkenalkannya pada kami. Orang ini bernama
Pak Usep, berusia 50-an, tubuhnya agak gemuk pendek, dia
adalah teman Pak Riziek yang berprofesi sebagai juru foto
di kampungnya. Tanpa membuang waktu lagi aku langsung
to the point menanyakan ada masalah apa sebenarnya aku
disuruh datang.
Pak Riziek mengeluarkan sebuah bungkusan yang
dalamnya berisi setumpuk foto, dia mengatakan bahwa
masalah inilah yang hendak dibicarakan denganku. Aku
dan Rina lalu melihat foto apa yang ditunjukkan olehnya.
Betapa terkejutnya kami bak disambar petir di siang bolong,
bagaimana tidak, ternyata foto-foto itu adalah foto-foto
erotis kami yang diabadikan ketika liburan tahun lalu, ada
foto bugilku, foto bugil Rina, dan juga foto adegan
persenggamaan kami dengan pacar masing-masing.
“Pak.., apa-apaan ini, darimana barang ini..?” tanyaku
dengan tegang.
“Hhmm.. begini Neng, waktu itu saya kebetulan lagi bersih-
bersih, pas kebetulan di bawah ranjang Neng Dian saya
lihat kok ada barang yang nongol, eh.. taunya klise foto
asoynya Neng Dian sama Neng Rina, ya udah terus saya
bawa ke Pak Usep ini untuk dicuci.” jawabnya sambil
sedikit tertawa.
“Apa, kurang ajar, Pak.. Bapak digaji untuk menjaga tempat
ini, bukannya mengoprek barang saya..!” kataku dengan
marah dan menundingnya.
Aku sangat menyesal kenapa begitu ceroboh membiarkan
klise itu tertinggal di villa, bahkan aku mengira barang itu
sudah dibawa oleh pacarku atau pacar Rina. Wajah Rina
juga ketika itu juga nampak tegang dan marah.
“Wah.. wah.. jangan galak gitu dong Neng, saya kan nggak
sengaja, justru Neng sendiri yang ceroboh kan?” mereka
berdua tertawa-tawa memandangi kami.
“Baik, kalau gitu serahkan klisenya, dan Bapak boleh pergi
dari sini.” kataku dengan ketus.
“Iya Pak, tolong kita bisa bayar berapapun asal kalian
kembalikan klisenya.” tambah Rina memohon.
“Oo.. nggak, nggak, kita ini bukan pemeras kok Neng, kita
cuma minta..” Pak Usep tidak meneruskan perkataannya.
“Sudahlah Pak, cepat katakan saja apa mau kalian..!” kata
Rina dengan ketus.
Perasan aneh mulai menjalari tubuhku disertai keringat
dingin yang mengucuri dahiku karena mereka mengamati
tubuh kami dengan tatapan lapar. Kemudian Pak Riziek
maju mendekatiku membuat degup jantungku makin
kencang. Beberapa senti di depanku tangannya bergerak
mengelus payudaraku.
“Hei.. kurang ajar, jangan keterlaluan ya..!” bentakku
sambil menepis tangannya dan mendorongnya.
“Bangsat.. berani sekali kamu, kalian kira siapa kalian ini
hah..? Dasar orang kampung..!” Rina menghardik dengan
marah dan melemparkan setumpuk foto itu ke wajah Pak
Riziek.

“Hehehe.. ayolah Neng, coba bayangakan, gimana kalo
foto-foto itu diterima orangtua, pacar, atau teman-teman di
kampus Neng? Wah bisa-bisa Neng berdua ini jadi terkenal
deh..!” kata Pak Usep dan disusul gelak tawa keduanya.
Aku tertegun, pikiranku kalut, kurasa Rina pun merasakan
hal yang sama denganku. Nampaknya tiada pilihan lain
bagi kami selain mengikuti kemauan mereka. Kalau foto-
foto itu tersebar bagaimana reputasiku, keluargaku, dan
reaksi pacarku, apalagi Rina yang berprofesi sebagai model
pada majalah ***(edited), bisa-bisa karirnya tamat gara-
gara masalah ini.
Pak Riziek kembali mendekatiku dan meraba pundakku,
sementara itu Pak Usep mendekati Rina lalu
mengelilinginya mengamati tubuh Rina.
“Gimana Neng, apa sudah berubah pikiran..?” tanyanya
sambil membelai rambutku yang sebahu lebih.
Kupikir-pikir untuk apa lagi jual mahal, toh kami pun sudah
bukan perawan lagi, hanya saja kami belum pernah bermain
dengan orang-orang bertampang kasar seperti mereka.
Akhirnya dengan berat hati aku hanya dapat
menganggukkan kepala saja.
“Ha.. ha.. ha.. akhirnya bisa juga orang kampung seperti
kita merasakan gadis kampus, ada foto modelnya lagi..!”
mereka tertawa penuh kemenangan.
Aku hanya dapat mengumpat dalam hati, “Bangsat kalian,
dasar tua-tua keladi..!”
Pak Riziek memelukku dan tangannya meremas-remas
payudaraku dari luar, lidahnya bermain dengan liar di
dalam mulutku. Perasaan geli, jijik dan nikmat bercampur
menjadi satu bersamaan dengan gejolak birahiku yang
mulai naik.
Tangannya kini makin berani menyusup ke bawah kaos
ketat lengan panjang yang kupakai, terus bergerak
menyusup ke balik BH-ku. Degub jantungku bertambah
kencang dan napasku makin memburu ketika kurasakan
tangan kasarnya mulai menggerayangi dadaku, apalagi
jari-jarinya turut mempermainkan putingku. Tanpa terasa
pula lidahku mulai aktif membalas permainan lidahnya, liur
kami menetes-netes di pinggir mulut.
Nasib Rina tidak beda jauh denganku, Pak Usep
mendekapnya dari belakang lalu tangannya mulai meremas
payudara Rina dan tangan satunya lagi menaikkan rok
selututnya sambil meraba-raba paha Rina yang jenjang
dan mulus. Satu-persatu kancing baju Rina dipreteli
sehingga nampaklah BH-nya yang berwarna merah muda,
belahan dadanya, dan perutnya yang rata. Melihat
payudara 36B Rina yang menggemaskan itu Pak Usep
makin bernafsu, dengan kasar BH itu ditariknya turun dan
menyembul lah payudara Rina yang montok dengan puting
merah tua.
“Whuua.. ternyata lebih indah dari yang di foto, mimpi apa
saya bisa merasakan foto model kaya Neng Rina,” katanya.
Pak Usep menghempaskan diri ke sofa, dibentangkannya
lebar-lebar kedua belah kaki Rina yang berada di
pangkuannya. Tangannya yang semula mengelus-elus
pahanya mulai merambat ke selangkangannya, jari-jari
besarnya menyelinap ke pinggir celana dalam Rina.
Ekspresi wajah Rina menunjukkan rasa pasrah tidak
berdaya menerima perlakuan seperti itu, matanya terpejam
dan mulutnya mengeluarkan desahan.
“Eeemhh.. uuhh.. jangan Pak, tolong hentikan.. eemhh..!”
Kemudian Pak Usep menggendong tubuh Rina, mereka
menghilang di balik kamar meninggalkan kami berdua di
ruang tamu. Setelah menaikkan kaos dan BH-ku, kini
tangannya membuka resleting celana panjangku. Dia
merapatkan tubuhku pada tembok. Aku memejamkan mata
berusaha menikmati perasaan itu, kubayangkan yang
sedang menggerayangi tubuhku ini adalah pacarku, Yudi.
Tua bangka ini ternyata pintar membangkitkan nafsuku.
Sapuan-sapuan lidahnya pada putingku menyebabkan
benda itu makin mengeras saja.
Sekarang kurasakan tangannya sudah mulai menyelinap ke
balik CD -ku, diusap-usapnya permukaan kemaluanku yang
ditumbuhi bulu-bulu halus lebat itu.
“Sshh.. eemhh..!” aku mulai meracau tidak karuan saat
jari-jarinya memasuki vaginaku dan memainkan
klistorisnya, sementara itu mulutnya tidak henti-hentinya
mencumbu payudara ku, sadar atau tidak aku mulai
terbawa nikmat oleh permainannya.
“Hehehe.. Neng mulai terangsang ya?” ejeknya dekat
telingaku.
Tiba-tiba dia menghentikan aktivitasnya dan dengan kasar
didorongnya tubuhku hingga terjatuh di sofa. Sambil
berjalan mendekat dia melepas pakaiannya satu persatu.
Setelah dia membuka celana dalamnya tampak olehku
kemaluannya yang sudah menegang dari tadi. Gila, ternyata
penisnya besar juga, sedikit lebih besar dari pacarku dan
dihiasi bulu-bulu yang sudah beruban. Kemudian dia
menarik lepas celanaku beserta CD-nya sehingga yang
tersisa di tubuhku kini hanya kaos lengan panjang dan BH-
ku yang sudah terangkat.
Dibentangkannya kedua belah pahaku di depan wajahnya.
Tatapan matanya sangat mengerikan saat memandangi
daerah selangkanganku, seolah-olah seperti monster lapar
yang siap memangsaku. Pak Riziek membenamkan
wajahnya pada selangkanganku, dengan penuh nafsu dia
melaahap dan menyedot-nyedot vaginaku yang sudah
basah itu, lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina dan
klitorisku. Sesekali dia mengorek-ngorek lubang kemaluan
dan anusku. Perlakuannya sungguh membuat diriku serasa
terbang, tubuhku menggelinjang-gelinjang diiringi erangan
nikmat.
Tidak lama kemudian akhirnya kurasakan tubuhku
mengejang, aku mencapai orgasme pertamaku. Cairan
cintaku membasahi mulut dan jari-jari Pak Riziek.
“Sluurrpp… sluurpp.. sshhrrpp..” demikian bunyinya ketika
dia menghisap sisa-sisa cairan cintaku.
Disuruhnya aku membersihkan jari-jarinya yang berlepotan
cairan cinta itu dengan mengulumnya, maka dengan
terpaksa kubersihkan jari-jari kasar itu dengan mulutku.
“Memek Neng Dian emang enak banget, beda dari punya
lonte-lonte di kampung Bapak,” celetuknya sambil
menyeringai.
“Sialan, masa gua dibandingin sama lonte kampung..!”
umpatku dalam hati.
“Nah, sekarang giliran Neng merasakan kontol Bapak ya..!”
katanya sambil melepas kaos dan BH-ku yang masih
melekat.
Sekarang sudah tidak ada apapun yang tersisa di tubuhku
selain kalung dan cincin yang kukenakan.
Dia naik ke wajahku dan menyodorkan penisnya padaku.
Ketika baru mau mulai, tiba-tiba telepon di dinding berbunyi
memecah suasana.
“Angkat teleponnya Neng, ingat saya tahu rahasia Neng,
jadi jangan omong macam-macam,” ancamnya.
Telepon itu ternyata dari Yudi, pacarku yang mengetahui
aku sedang di villa dari pembantu di rumahku. Dengan
alasan yang dibuat-buat aku menjawab pertanyaannya dan
mengatakan aku di sini baik-baik saja.
Ketika aku sedang berbicara mendadak kurasakan
sepasang tangan mendekapku dari belakang dan dekat
telingaku kurasakan dengus napasnya. Tangan itu mulai
usil meraba payudaraku dan tangan satunya lagi pelan-
pelan merambat turun menuju kemaluanku, sementara pada
leherku terasa ada benda hangat dan basah, ternyata Pak
Riziek sedang menjilati leherku. Penisnya yang tegang
saling berhimpit dengan pantatku. Aku sebenarnya mau
berontak namun aku harus bersikap normal melayani
obrolan pacarku agar tidak timbul kecurigaan.
Aku hanya dapat menggigit bibir dan memejamkan mata,
berusaha keras agar tidak mengeluarkan suara-suara
aneh. Dasar sial, si Yudi mengajakku omong panjang lebar
sehingga membuatku makin menderita dengan siksaan ini.
Sekarang Pak Riziek menyusu dariku, tidak henti-hentinya
dia mengulum, menggigit dan menghisap putingku sampai
memerah.
Akhirnya setelah 15 menit Yudi menutup pembicaraan, saat
itu Pak Riziek tengah menyusu sambil mengorek-ngorek
kemaluanku, aku pun akhirnya dengan lega mengeluarkan
erangan yang dari tadi tertahan.
“Heh, sopan dikit dong..! Tau ngga saya tadi lagi
nelepon..!” marahku sambil melepas pelukkannya.
“Hohoho.. maaf Neng, saya kan orang kampung jadi kurang
tau sopan santun, eh.. omong-omong itu tadi pacar Neng
ya? Tenang aja habis merasakan kontol saya pasti Neng
lupa sama cowok itu..!” ejeknya dan dia kembali memeluk
tubuhku.
Disuruhnya aku duduk di sofa dan dia berdiri di hadapanku,
penisnya diarahkan ke mulutku. Atas perintahnya kukocok
dan kuemut penis itu, pada awalnya aku hampir muntah
mencium penisnya yang agak bau itu, namun dia menahan
kepalaku hingga aku tidak dapat melepaskannya.
“Iseepp, isep yang kuat Neng, jangan cuma dimasukin
mulut aja..!” suruhnya sambil terus memaju-mundurkan
penisnya di mulutku.
Sayup-sayup aku dapat mendengar erangan Rina dari
dalam kamar yang pintunya sedikit terbuka itu.
Lama kelamaan aku sudah dapat menikmatinya, tangannya
yang bergerak lincah mempermainkan payudaraku dan
memilin-milin putingnya membuatku semakin bersemangat
mengulum dan menjilati kepala penisnya.
“Naahh.. gitu dong Neng, ayoo.. terus.. Neng jilatin
ujungnya, eengh.. bagus..!” desahnya sambil menjambak
rambutku.
Selama 15 menit aku mengkaraokenya dan dia
mengakhirinya dengan menarik kepalaku.
Setelah itu dibaringkannya tubuhku di sofa, dia lalu
membuka lebar-lebar kedua pahaku dan berlutut di
antaranya. Aku memejamkan mata menikmati detik-detik
ketika penisnya menerobos vaginaku.
Penisnya meluncur mulus sampai menyentuh rahimku. Aku
mengerang setiap kali dia menyodokkan penisnya. Gesekan
demi gesekan, sodokan demi sodokan sungguh membuatku
terbuai dan semakin menikmati perkosaan ini, aku tidak
perduli lagi orang ini sesungguhnya adalah pembantuku.
Sambil menyetubuhiku bibirnya tidak henti-hentinya
melumat bibir dan payudaraku, tangannya pun selalu
meremas payudara dan pantatku. Erangan panjang keluar
dari mulutku ketika mencapai klimaks, sekujur tubuhku
mengejang beberapa detik sebelum melemas kembali.
Keringat bercucuran membasahi tubuhku sehingga
kelihatan mengkilat. Tanpa memberiku kesempatan
beristirahat dia menaikkan tubuhku ke pangkuannya. Aku
hanya pasrah saja menerima perlakuannya.
Setelah penisnya memasuki vaginaku, aku mulai
menggerakkan tubuhku naik turun. Pak Riziek menikmati
goyanganku sambil ‘menyusu’ payudaraku yang tepat di
depan wajahnya, payudaraku dikulum dan digigit kecil
dalam mulutnya seperti bayi sedang menyusu. Terkadang
aku melakukan gerakan memutar sehingga vaginaku terasa
seperti diaduk-aduk. Aku terus mempercepat goyanganku
karena merasa sudah mau keluar, makin lama gerakanku
makin liar dan eranganku pun makin tidak karuan menahan
nikmat yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu sampai
aku menjerit histeris sambil mempererat pelukanku. Benar-
benar dahsyat yang kuperoleh walaupun bukan dengan
lelaki muda dan tampan.
Kali ini dia membalikkan badanku hingga menungging.
Disetubuhinya aku dari belakang, tangannya bergerilya
merambahi lekuk-lekuk tubuhku. Harus kuakui sungguh
hebat lelaki seumur dia dapat bertahan begitu lama dan
membuatku orgasme berkali-kali, atau mungkin
sebelumnya dia sudah minum obat kuat atau sejenisnya,
ah.. aku tidak perduli hal itu, yang penting dia telah
memberiku kenikmatan luar biasa.
Sudah lebih dari setengah jam dia menggarapku. Tidak
lama setelah aku mencapai klimaks berikutnya, dia mulai
melenguh panjang, sodokanya makin kencang dan kedua
payudaraku diremasnya dengan brutal sehingga aku
berteriak merasakan sakit bercampur nikmat. Setelah itu
dia menarik lepas penisnya dan naik ke dadaku. Di sana
dia menjepitkan penisnya yang sudah licin mengkilap itu di
antara kedua payudaraku, lalu dikocoknya sampai maninya
menyempot dengan deras membasahi wajah dan dadaku.
Aku sudah kehabisan tenaga, kubiarkan saja maninya
berlepotan di tubuhku, bahkan yang mengalir masuk ke
mulut pun kutelan sekalian. Sebagai ‘hidangan penutup’,
Pak Riziek menempelkan penisnya pada bibirku dan
menyuruhku membersihkannya. Kujilati penis itu sampai
bersih dan kutelan sisa-sisa maninya. Setelahnya dia
meninggalkanku terbaring di sofa, selanjutnya aku tidak
tahu apa-apa lagi karena sudah tidak sadarkan diri.
Begitu aku bangun jam sudah menunjukkan pukul 4 sore,
aku menemukan diriku masih bugil, sisa-sisa sperma
kering masih membekas pada wajah dan dadaku, sekujur
tubuhku terutama dada penuh dengan bekas cupangan
yang memerah. Aku melihat sekeliling, hening tanpa suara,
entah kemana Rina dan kedua ‘kambing bandot’ itu. Aku
tidak memikirkan apa-apa lagi, aku menuju kamar mandi
karena ingin kencing, lalu kunyalakan shower dan
kubersihkan tubuhku dari sisa-sisa persetubuhan tadi.
Dalam hati aku masih merasa marah, kesal, dan sedih
karena dijebak dan diperkosa seperti itu, namun setiap
teringat yang barusan, aku malah ingin mengulanginya lagi.
Sehabis mandi, kepenatan tubuhku terasa mulai berkurang,
kuraih kimono kuning dan memakainya tanpa memakai
apa-apa di baliknya. Ketika aku keluar kamar mandi masih
belum merasakan tanda-tanda keberadaan mereka di sini,
begitu juga kamar yang tadi dipakai Rina dan Pak Usep, di
sana hanya kudapati ranjang yang sudah berantakan dan
masih tercium aroma sperma bekas pertarungan tadi.
Pakaian Rina dan Pak Riziek juga masih berceceran di
ruang tamu. Terlintas di benakku saat itu kolam renang, ya
mereka pasti di sana.
Aku segera menuju kolam di belakang untuk memastikan.
Dugaanku ternyata tepat, di sana terlihat pemandangan
yang membuat darah bergolak. Di tepi kolam itu Rina
sedang dikerjai oleh mereka berdua. Dia tengah memacu
tubuhnya di atas penis Pak Riziek yang berbaring sambil
meremasi dadanya, sementara mulutnya dijejali oleh penis
Pak Usep yang berdiri di sampingnya, tubuh ketiganya
basah oleh air kolam, langit senja yang berwarna kuning
keemasan menambah erotisnya suasana.
“Hai, Neng Dian udah bangun toh..!” sapa Pak Riziek.
“Wah, saya udah lama nungguin Neng Dian, tapi tunggu ya,
Neng Rina lagi asyik makan es mambo nih..!” sahut Pak
Usep.
Rina hanya dapat melirik sayu padaku karena mulutnya
penuh oleh penis dan Pak Usep menahan kepalanya.
Adegan mesum itu membangkitkan kembali nafsuku,
selangkanganku terasa basah.
5 menit kemudian Pak Usep mencabut penisnya dari mulut
Rina dan mendekatiku.
“Pak, kapan klisenya kalian kembalikan..?” tanyaku tidak
sabar.
“Tenang Neng, sekarang mau pulang juga sudah
kemalaman, klisenya pasti kita kasih ke Neng besok,”
jawabnya sambil menepuk bahuku.
“Apa..! Besok..? Keterlaluan kalian..!” bentakku.
“Jangan marah-marah gitu dong Neng, besok pagi saya
janji pasti ngasih klisenya ke Neng,” katanya sambil
memutari tubuhku.
Kurasakan elusan Pak Usep pada paha belakangku,
tangannya makin naik menyingkap kimonoku dan akhirnya
meremas pantat ku.
“Hoi, Pak Riziek, ternyata nona majikanmu ini asoy bener,
pahanya mulus, pantatnya juga wuiih.. montok..!” serunya
pada temannya.
Kupingku benar-benar panas mendengar ejekannya, namun
dalam hati aku justru berharap dia berbuat lebih jauh.
“Ooouuhhh..!” demikian desahan pelan yang keluar dari
mulutku ketika tangan Pak Usep sampai ke belahan
kemaluanku.
Jarinya membuka belahan itu dan meraih klistorisnya,
daerah sensitif itu dimainkannya sehingga membuatku
mendesah dan kedua kakiku terasa lemas tidak bertenaga.
Dibaringkannya tubuhku pada kursi santai di tepi kolam itu.
Tercium bau rokok murahan dari mulutnya ketika dia
melumat bibirku, lidahnya mengelitik lidahku.
Pak Usep melepaskan tali pinggangku sehingga kimonoku
terbuka, ciumannya perlahan-lahan turun dari dagu dan
leher menuju payudaraku. Sambil melumat payudaraku
tangan yang satunya dengan kasar mengobrak-abrik
vaginaku.
“Aakkhh.. Pak, sakit.. pelan-pelan Pak..!” rintihku
kesakitan.
Aku melihat ke arah Rina yang sedang dikerjai Pak Riziek.
Dia sedang dalam posisi dogie, Pak Riziek dari belakang
melakukan penetrasi ke lubang anus Rina. Dia menjerit-
jerit kesakitan ketika penis besar itu dengan paksa
memasuki duburnya yang sempit. Bukannya kasihan tapi
nampaknya Pak Riziek malah semakin bergairah melihat
penderitaan Rina, ketika sudah masuk setengahnya
dihujamkannya penis itu dengan keras, spontan tubuh Rina
tersentak dan jeritan panjang yang memilukan keluar dari
mulutnya.
Selanjutnya dengan ganas Pak Riziek menyo domi Rina
sambil mendesis-desis menikmati penisnya terjepit dubur
Rina yang sempit. Aku sangat kasihan melihat penderitaan
Rina, tapi apa dayaku karena aku sendiri sedang dalam
kesulitan. Kini Pak Usep membuka lebar kedua pahaku,
tangan satunya memegang penisnya yang gemuk itu dan
menggesek-geseknya pada bibir kemaluanku sehingga aku
mendesah nikmat dan tubuhku menggeliat-geliat.
Setelah vaginaku basah kuyup dia menekan penisnya
hingga amblas seluruhnya. Aku melihat jelas bagaimana
penis itu keluar masuk ke dalam vaginaku. Kenikmatan
dahsyat telah melanda tubuhku hingga aku tidak kuasa
untuk tidak mengerang. Suara desahan terdengar sahut
menyahut di tepi kolam itu. Kemudian aku merasakan
tubuhku bagaikan tersengat listrik, aku menjerit sekuat
tenaga dan mempererat genggamanku pada pegangan
kursi. Cairan kemaluanku muncrat dengan derasnya dan
kurasakan tubuhku seperti lumpuh. Namun Pak Usep belum
menyudahi perbuatannya.
Sekarang dia memiringkan tubuhku dan mengangkat kaki
kiriku, lalu dia meneruskan genjotannya pada tubuhku. Aku
sudah setengah sadar ketika tiba-tiba sebatang penis
sudah berada di depan wajahku. Kutengadahkan kepalaku
dan kulihat Pak Riziek berdiri di sampingku dengan
penisnya masih berdiri kokoh, tidak jauh dari situ nampak
tubuh telanjang Rina yang sudah terkapar lemas. Tanpa
membuang waktu lagi diraihnya kepalaku, mulutku penuh
sesak oleh penisnya yang berlumuran aneka cairan itu.
Tiba-tiba mereka menurunkan tubuhku dari kursi, kini aku
berada di lantai dengan posisi anjing, kimonoku mereka
lepas hingga aku bugil total. Pak Riziek mengambil posisi
di belakangku lalu dia membuka duburku dan tangan
satunya mengarahkan penisnya ke sana. Ooohh.. tidak, dia
mau menyodomiku seperti yang dia lakukan pada Rina,
masih terbayang olehku betapa brutalnya lelaki ini
memperlakukan Rina barusan.
“Jangan Pak, jangan di situ aduuuh.. sakit.. ooh..!” rintihku
memelas ketika dia memasukkan penisnya.
“Aakkh… akhh… oougghh…” aku terus merintih-rintih,
mataku terpejam merasakan kepedihan tiada tara sampai
airmataku meleleh membasahi pipi.
“Wah.., enak, lebih seret dari Neng Rina..!” kata Pak Riziek
disambut gelak tawa mereka.
Dia mulai menggenjot tubuhku sementara di depanku Pak
Usep memaksaku mengkaraoke penisnya.
“Udah jangan nangis, lu sebenernya keenakan kan..! Ayo
emut nih kontol..!” perintahnya sambil menjambak
rambutku.
Aku benar-benar merasa terhina saat itu namun
menikmatinya, perlakuan kasar ini mendatangkan
kenikmatan tersendiri. Selain menyodomiku, Pak Riziek
juga sesekali menampar pantatku hingga terasa panas dan
sakit. Di tempat lain Pak Usep terus menahan kepalaku
yang sedang mengulum penisnya sambil memaju-
mundurkan pantatnya seolah sedang menyetubuhiku,
wajahku makin terbenam pada bulu-bulu kemaluannya
yang lebat.
Tidak lama kemudian kurasakan penis Pak Usep dalam
mulutku semakin berdenyut dan akhirnya tumpahlah
spermanya di mulutku. Ehheek.. hhkk.. aku tersedak tapi
kepalaku ditahan olehnya sehingga terpaksa cairan itu
kutelan, sebagian meleleh keluar membasahi bibirku. Pada
saat hampir bersamaan pula aku klimaks yang kesekian
kalinya, tubuhku mengejang, aku ingin menjerit namun
mulutku tersumbat penis Pak Usep sehingga hanya
terdengar suara erangan tertahan dari mulutku yang
berlepotan sperma dan airmataku makin membanjir.
Beberapa menit kemudian akhirnya Pak Riziek ejakulasi,
aku merasakan cairan hangat dan kental menyirami
duburku. Aku merasa sangat lelah, napasku terengah-
engah dan menangis terisak-isak apalagi saat kudengar
mereka tertawa-tawa dan mengucapkan kata-kata yang
merendahkan kami, makin panas saja telinga dan hatiku.
Pak Riziek masuk ke dalam dan tidak lama kemudian ia
kembali dengan 2 gelas air, disodorkannya gelas itu
padaku dan Rina yang dibangunkannya dengan menyiram
air kolam. Langit sudah gelap ketika itu, Pak Riziek keluar
membeli makan malam untuk kami. Sambil menunggu Pak
Usep beristirahat dengan berendam di kolam dangkal
bersamaku dan Rina, tingkahnya seperti raja minyak saja,
dia meminta Rina yang payudaranya montok melakukan
pijat ala Thai, sedangkan aku digerayangi dan diciuminya
seperti mainan. Sungguh benci aku padanya, tapi terpaksa
harus bersikap manis agar dapat lekas bebas darinya.
Malam harinya sebelum tidur kami main berempat
sekaligus di ranjangku. Pak Usep berbaring, aku naik ke
atas wajahnya berhadap-hadapan dengan Rina yang naik
ke atas penisnya. Kami berdua s i buk mengkaraoke penis
Pak Riziek yang mengacung di antara kami. Secara
bergantian kami menjilati dan mengulum penis itu hingga
memuncratkan maninya membasahi wajah kami.
Sementara itu kurasakan vaginaku mulai banjir lagi akibat
permainan lidah Pak Usep.
Malam itu, setelah digarap habis-habisan akhirnya kami
berempat tertidur kelelahan di kamar itu. Pagi harinya
kembali aku digarap di bathtub oleh Pak Riziek ketika
mandi bersama, aku dibuatnya klimaks dua kali dan dia
semprotkan maninya dalam vaginaku. Setelah seharian
menjadi budak seks, mereka akhirnya mengembalikan klise
itu pada kami. Kami memeriksanya dengan seksama agar
tidak mendapat kesulitan lagi di kemudian hari. Segera
setelah itu kusuruh mereka hengkang dari v i lla-ku dan
kami pun pulang ke Jakarta.
Hari berikutnya Pak Riziek menghubungi ayahku untuk
pamit mengundurkan diri dan sejak itu pula atas bujukanku
dengan macam-macam alasan, keluarga kami tidak pernah
lagi menyewa orang untuk menjaga villa. Aku masih
dendam pada mereka yang telah memperdayaiku, namun
terkadang aku merasa rindu mengulanginya, rindu tangan-
tangan kasar itu menggerayangi tubuhku. Hingga detik ini
belum seorang pun mengetahui peristiwa itu temasuk
keluarga dan kekasih kami.

Itil Reviews
CERITA DEWASA TANTE SEXY | lubangmanja | 4.5