itil practitioner itil implementation itil service manager itil help desk online

cerita dewasa : cinta terlarang yang kunikmati

Thursday, January 12th, 2017 - Kimcil
Itil Support

Ini pengalamank cerita dewasa sekitar 5 tahun yg lalu.
Saat ini aku sudah berusia 38 tahun dan bekerja di salah
satu instansi pemerintahan. Dan aku menikah sejak 9 tahun
yg lalu dgn 2 anak. Aku berasal dr salah satu kota di
Kalimantan dan kuliah di salah satu kota di Jawa. Selepas
kuliah aku sempat kerja di perusahaan swasta setahun dan
akhirnya diterima di instansi pemerintahan tempat aku
bekerja skrg.
Tuntutan pekerjaan membuat aku harus beberapa kali
pindah kota dan pada 5 tahun yg lalu aku sempat
ditempatkan di salah satu kota di propinsi asalku di
Kalimantan yg berjarak sekitar 1-1,5 jam dari kota asalku.
Pada saat itu istri dan anakku tidak ikut serta karena istriku
harus bekerja dan terikat kontrak kerja yg tidak
memperkenankannnya mengundurkan diri atau bermohon
pindah sebelum 5 tahun masa kerjanya.
Sehingga jadilah aku sendiri di sana dan tinggal di salah
satu rumah orang tuaku yg mereka beli untuk investasi. Krn
kebutulan aku pindah ke sana maka aku tinggal sendiri.
Rumah tersebut berada di kompleks perumahan yg cukup
luas namun cenderung sepi krn kebanyakan hanya menjadi
tempat investasi alternatif saja, dan kalau ada yg tinggal
adalah para pendatang yg mengontrak rumah di sana. Jadi
lingkungan relatif apatis di sana.
Pada beberapa kesempatan aku kadang-kadang berkunjung
ke tempat nenekku yg tinggal di suatu kabupaten (sekitar 4
jam dari kota tempat aku tinggal sekarang) utk sekedar
silaturahmi dengan famili di sana. Pada salah satu
kunjungan saya ke sana, saya sempat bertemu dengan
salah seorang yg dalam hubungan kekerabatan bisa
disebut nenekku juga di rumah salah satu famili, sebetulnya
bukan nenek langsung. Persisnya ia adalah adik bungsu
dari istri adik kakekku (susah ya ngurutnya). Usianya lebih
tua sekitar 8-9 tahunan dariku. Profil mukanya seperti Yati
Octavia (tentu Yati Octavia betulan lebih cantik), dengan
kulit cenderung agak gelap, dan badannya sekarang sedikit
agak gemuk. Walaupun terhitung nenekku, ia biasanya saya
panggil bibi saja krn usianya ia risih dipanggil nenek.
Pertemuan tsb sebetulnya biasa saja, tapi sebetulnya ada
beberapa hal yg sedikit spesial terkait pertemuan tersebut.
Pertama, saya baru tau kalau suaminya baru meninggal
sekitar 1 tahunan yg lalu. Ia yg berstatus honorer di sebuah
instansi pemerintah sedikit mengeluhkan kondisi
kehidupannya (untung ia hidup di kota kabupaten yg kecil)
dengan 2 anak perempuannya yg berusia 12 dan 8 tahun.
Saat itu aku bilang akan mencoba utk membantu
memperbaiki status honorernya dgn mencoba menghubungi
beberapa relasi/kolegaku. Hal spesial yg lain adalah sedikit
pengalamanku di masa lalu dgn dia yg sebetulnya agak
memalukan bila diingat (saat itu saya berharap ia lupa).
Wkt saya masih di bangku SMA, ia dan kadang bersama
famili yg lain sering berkunjung ke rumahku krn ia pernah
kuliah di kota kelahiranku namun kost di tempat lain. Ia
kadang2 menginap di rumahku. Pada waktu ia nginap
dengan beberapa famili yg lain, aku sering ngintip mereka
mandi dan tidur. Sialnya sekali waktu, saat malam2 aku
menyelinap ke kamarnya (di rumahku kamar tidur jarang di
kunci), dan menyingkap kelambunya (dulu kelambu masih
sering digunakan). Saya menikmati pemandangan di mana
ia tidur telentang dan dasternya tersingkap sampai keliatan
celana dalam dan sedikit perutnya. Saat itu saya mencoba
mengusap tumpukan vaginanya yg terbungkus celana
dalam dan pahanya. Setelah beberapa kali usapan ia tiba2
terbangun dan saya pun cepat2 menyingkir keluar kamar.
Sepertinya ia sempat melihat saya, hanya saja ia tidak
berteriak. Hari2 berikutnya saya selalu merasa risih
bertemu dia, namun iapun bersikap seolah2 tdk terjadi
apa2. Sejak saat itu saya tdk pernah coba2 lagi ngintip ia
mandi dan tidur. Hal itu akhirnya seperti terlupakan setelah
saya kuliah ke Jawa, ia menikah dan sayapun akhirnya
menikah juga. Inilah pertemuan saya yg pertama sejak saya
kuliah meninggalkan kota kelahiran saya.
Beberapa wkt kemudian pada beberapa instansi ada
program perekrutan pegawai termasuk yg eks honorer
termasuk pada instansi nenek mudaku tersebut. Pada suatu
pembicaraan seperti yg pernah saya singgung sebelumnya,
nenek mudaku tersebut sempat minta tolong agar ia bisa
diangkat sbg pegawai tetap dan akupun kasak-kusuk
menemui kenalanku agar nenek mudaku tersebut dapat
dialihkan status honorernya menjadi pegawai. Aku
beberapa kali menelpon nenek mudaku tersebut untuk
meminta beberapa data dan dokumen yg diperlukan. Entah
karena bantuan kenalanku atau bukan, akhirnya ia
dinyatakan diterima sebagai pegawai. Nenek mudaku itu
beberapa kali menelponku utk mengucapkan terima kasih,
dan aku yg saat itu memang tulus membantunya juga ikut
merasa senang.
Beberapa bulan kemudian aku mendapat telpon lagi dari
nenek mudaku tersebut yang mengabarkan bhw ia akan ke
kota tempatku bertugas karena ia harus mengikuti pelatihan
terkait dengan pengangkatannya sebagai pegawai di salah
satu balai pelatihan yang tempatnya relatif dekat dengan
rumahku. Waktu itu ia menginformasikan akan menginap di
balai pelatihan tersebut namun akan berkunjung ke
rumahku juga.
Pada suatu hari Sabtu sore ia tiba di rumahku dengan
membawa koper dan oleh2 berupa penganan khas
daerahnya tinggal dan buah2an. Ia mengatakan hari
pelatihannya dimulai hari Senin namun ia takut terlambat
dan akan segera ke balai pelatihan tersebut malamnya. Aku
tawarkan untuk istirahat dulu dan menginap satu malam.
Namun karena kekahwatiran tersebut ia menolak untuk
menginap dan hanya beristirahat saja. Maka ia kutunjukkan
kamar tidur yang ada di samping kamar tidurku utk istirahat
sejenak.
Tidak ada kejadian apa2 sampai saat itu, dan pada malam
harinya ia kuantar ke balai latihan. Namun di balai latihan
tersebut suasananya masih sepi dan baru 3 orang yang
melapor itupun masih keluar jalan2. Melihat keraguan untuk
masuk ke balai latihan tersebut kembali aku tawarkan untuk
menginap di rumah dulu dan nanti Senin pagi baru kembali.
Ia langsung menerima tawaranku sambil menambahkan
komentar bahwa ia dengar balai pelatihan tersebut agak
angker. Malam minggu ia menginap dan tidak ada kejadian
yg spesial kecuali kami mengobrol sampai malam dan ia
menyiapkan makanan/minumanku. Sampai saat itu belum
terlintas apa2 dalam pikiranku. Namun ketika ia selesai
mencuci piring dan melintas di depanku yaitu antara aku
dan televisi yg sedang aku tonton ia berhenti untuk melihat
acara televisi sejenak. Saat itu aku melihat silhuote
tubuhnya di balik daster katunnya yang agak tipis diterobos
cahaya monitor televisi. Saat itulah pikiranku mulai
mengkhayalkan yang tidak2. Maklum aku jauh dari istri dan
kalau ngesekspun dengan orang lain juga kadang2 (aku
pernah ngeseks dengan PSK yg agak elit dan beberapa
mahasiswi tapi frekuensinya jarang krn biaya tinggi). Saat
itu ia saya suruh duduk dekat saya utk nonton TV
bersama2. Kami pun ngobrol ngalor ngidul sampai malam
dan ia pun pamit utk tidur. Malam Seninnya juga tidak
terjadi apa2 kecuali saat ngobrol sudah mulai bersifat
pribadi tentang masalah-masalahnya seperti anaknya yg
perlu uang sekolah dan lainnya. Aku katakan bahwa aku
akan bantu sedikit keuangannya dan iapun berterima kasih
berkali2 dan mengatakan sangat berhutang budi padaku.
Senin paginya ia kuantar ke balai pelatihan tersebut dan
dengan membawakan kopernya saya ikut masuk ke
kamarnya yang mestinya bisa untuk 6 orang. Dengan
menginapnya ia di sana, maka buyarlah angan2 erotisku pd
dirinya dan akupun terus ke kantorku utk kerja seperti
biasa. Namun pada sore hari aku menerima telpon yang
ternyata dari nenek mudaku tersebut. Ia mengatakan bahwa
agak ragu2 menginap di balai pelatihan tersebut krn
ternyata semua teman2 perempuannya tidak menginap di
situ, tapi di rumah familinya masing2 yg ada di kota ini
sehingga di kamar yg cukup utk 6 orang itu ia tinggal
sendiri kecuali jam istirahat siang baru beberapa rekan
perempuannya ikut istirahat di situ. Dgn bersemangat aku
menawarkan ia menginap di rumah lagi sambil melontarkan
kekhawatiranku kalau ia sendiri di situ (sekedar akting). Ia
terima tawaranku dan aku berjanji akan menjemput dia
sepulang kantor.
Akhirnya iapun menginap di rumahku dan rencananya akan
sampai sebulan sampai pelatihan selesai. Angan2ku
kembali melambung namun aku masih tdk berani apa2
mengingat penampilannya yg sdh sangat keibuan,
kedudukannya dalam kekerabatan kami yg terhitung nenek
saya, dan sehari2nya kalau keluar rumah pakai kerudung
(tapi bukan jilbab). Aku betul2 memeras otak namun tdk
pernah ketemu bagaimana cara bisa menyetubuhinya tanpa
ada resiko penolakan. Aku sedikit melakukan pendekatan
yg halus. Sekedar utk memberi perhatian dan sedikit akal
bulus sempat aku belikan ia baju dan daster. Utk daster aku
pilihkan ia yg cenderung tipis dan model you can see.
Hampir setiap malam ia aku ajak keluar makan malam atau
belanja (walupun pernah ia sekali menolak dgn alasan
capek). Kalau ada kesempatan aku kadang2 mendempetkan
badanku ke badannya bila lagi jalan kaki bersama atau
duduk makan berdua di rumah makan. Aku juga sering
keluar kamar mandi (kamar mandi di rumahku ada di luar
kamar tidur) dgn hanya melilitkan handuk di badan. Selain
itu aku juga kadang menyapa dan memujinyaa sambil
memegang salah satu atau kedua pundaknya bila ia
memasak sarapan pagi di dapur. Dari semua itu saya belum
bisa menangkap apakah responnya positif terhadap aku.
Dan setelah hampir 1 minggu, yaitu pada hari Sabtu pagi
iapun pamit pulang ke kotanya untuk menengok anaknya yg
agak sakit dan akan kembali minggu malamnya. Iapun
pulang dan aku yg sendirian di rumah akhirnya juga keluar
kota ke kota kelahiranku yg jaraknya cuma 1 jam dr kota
tinggalku utk main2 dgn teman2 masa SMAku serta
silaturahmi ke rumah orang tuaku.
Saat bertemu teman2 lamaku aku agak banyak minum bir
dan waktu tidurku agak kurang. Sore menjelang Maghirib
akupun pulang ke kota di mana aku tinggal, terlintas
sebuah rencana utk menggauli nenek mudaku yg saya
perkirakan akan lebih duluan sampai di rumahku (ia
kukasihkan kunci duplikat rumah utk antisipasi seandainya
aku tdk ada dirumah bila ia datang).
Sayapun sampai di rumah dan memang benar ia sudah ada
di rumah. Ia bertanya kepadaku kenapa aku pucat dan
keringatan dan saat ia pegang dahi dan tanganku ia bilang
agak hangat (mugkin krn pengaruh begadang). Aku hanya
berkomentar bhw aku mau cerita tapi tdk enak dan minta
agar malam ini makan malam di rumah saja krn aku tdk
enak badan. Ia tdk keberatan dan tanya aku mau makan
apa, aku bilang aku cuma mau makan indomie telur dan
iapun setuju. Seperti kebiasaannya ia selalu buatkan aku
kopi dan teh utk dirinya, tak terkecuali malam itu.
Melihat aku masih pucat ia menawarkan obat flu tapi aku
bilang aku tdk flu dan tdk bisa cerita sambil pergi dengan
pura2 sempoyongan ke kamarku dan bilang aku mau
istirahat. Aku masuk kamar dan membuka baju dan
berbaring di tempat tidur dgn hanya pakai celana pendek.
Iapun menyusulku ke kamarku dan dgn iba bertanya kenapa
dan apa yg bisa ia bantu. Dalam hatiku aku mulai
tersenyum dan mulai melihat suatu peluang. Ia bahkan
menawarkan utk memijat atau mengerik punggungku, tapi
aku mau langsung ke sasaran saja dengan mempersiapkan
sebuah cerita rekayasa.
Akhirnya aku menatap ia dan menanyakan apakah ia mau
tau kenapa aku begini dan mau menolong saya. Ia segera
menjawab bahwa ia akan senang sekali bisa menolong
saya krn saya sudah banyak membantunya. Iapun kusuruh
duduk di tempat tidur dan dengan memasang mimik serius
dan memelas sambil memegang salah satu tangannya
akupun bercerita. Aku karang cerita bhw aku baru saja
kumpul2 sama teman2ku waktu ke luar kota tadi sore.
Terus ada salah satu temanku yg bawa obat perangsang yg
aku kira adalah obat suplemen penyegar badan. Karena tdk
tau, obat itu aku minum dan skrg efeknya jadi begini di
mana aku kepingin ML dgn perempuan. Aku karang cerita
bhw bila tdk tersalur itu akan membahayakan kesehatanku
sementara istriku tdk ada di sini. Aku juga mengarang
cerita bhw aku sudah mengupayakan onani tapi tdk berhasil
dan tdk mungkin aku mencari PSK krn tdk biasa. Aku
katakan bhw dgn terpaksa dan berat hati aku mengajak ia
bersedia utk ML denganku utk kepentingan kesehatanku.
Mendengar ceritaku ia terdiam dan menundukkan wajahnya,
tapi salah satu tangannya tetap kupegang sambil kubelai
dengan lembut. Melihat itu, aku lanjutkan dgn berkata bhw
kalau ia tdk bersedia agar tdk usah memaksakan diri dan
aku mohon maaf dgn sikapku krn ini pengaruh obat
perangsang yg terminum olehku. Selain itu kusampaikan
bahwa biarlah kutanggung akibat kesalahan minum obat
tersebut dan aku katakan lagi bhw aku sadar kalau
permintaanku itu tdk pantas tapi aku tdk bisa melihat jalan
keluar lain sambil minta ia memikirkan solusi selain yg
kutawarkan. Ia tetap diam, namun kurasakan bhw nafasnya
mulai memburu dan dengan lirih ia berkata apa aku benar2
mau ML sama dia padahal ia merasa ia sudah agak tua, tdk
terlalu cantik, agak sedikit gemuk dan berasal dari
kampung. Aku jawab bahwa ia masih menarik, namun yg
penting aku harus menyalurkan hasratku. Ia diam lagi dan
aku duduk dikasur sambil tanganku merangkul dan
membelai pundaknya yg terbuka karena dasternya model
you can see. Kulitnya terasa masih halus dan sedikit
kuremas pundaknya yg agak lunak dagingnya. Mukanya
pucat dan bersemu merah berganti2, ia juga terlihat
gelisah.
Sedikit lama situasi seperti itu terjadi tapi aku tdk tau entah
berapa lama, sampai aku mengulang pertanyaanku kembali
(walaupun aku sudah yakin ia tdk akan menolak) dan
akhirnya ada suara pelan dan lirih dari mulutnya. Aku tdk
tau apa yg ia katakan tapi instingku mengatakan itu tanda
persetujuan dan dengan pelan aku dekatkan mukaku ke
wajahnya. Mula2 aku cium dahinya, setelah itu mulutku
menuju pipinya. Ia hanya memejamkan mata, namun
gerakan wajahnya yg sedikit maju sudah menjadi isyarat
bhw ia tdk keberatan. Sedikit lama aku mencium kedua
pipinya dan aku sejenak mencium hidungnya (di situ
kurasakan desah nafasnya agak memburu) lalu akhirnya
aku mencium bibirnya yg sudah agak terbuka sejak tadi.
Sambil melakukan itu kedua tanganku juga beraksi dengan
halus. Tangan kananku merangkulnya melewati belakang
kepalanya kadang di bahu kanannya dan kadang di
tengkuknya di belakang rambutnya yg terurai. Sedang
tangan kiriku merangkul punggungnya dan mengusap paha
kanannya secara bergantian.
Ciuman bibir mulai kuintensifkan dengan memasukan
lidahku ke mulutnya. Ia gelagapan namun tangan kananku
memegang tengkuknya untuk meredam gerakan kepalanya.
Ternyata ia tidak biasa dicium dgn memasukan lidah ke
mulut yg kelak baru saya ketahui belakangan.. Tangan
kiriku terus bergerilya, aku menarik bagian bawah
dasternya yg ia duduki agar tangan kiriku bisa masuk ke
sela2 antara daster dan punggungnya. Berhasil, tanganku
mengusap punggungnya yg halus namun masih kurasakan
tali BH nya di situ. Dengan pelan2 kubuka tali BH nya.
Terasa ada sedikit perlawanan dari dia dengan
menggerak2an punggungnya sedikit. Iapun hampir
melepaskan mulutnya dari mulutku. Namun bibirku terus
mengunci bibirnnya dan tugas tangan kiriku membuka
pengait BH nya dibelakan sudah terlaksana. Tangan
kananku langsung berpindah dengan menyelinap di balik
daster bagian depan dan menuju BH nya yg sudah terbuka.
Aku biarkan BH tsb dan tangan kananku menyelinap di
antara BH dan payudaranya. Aku elus2 dan cubit2 pelan
payudara di sekitar putingnya beberapa saat sebelum
akhirnya menuju puting sampai akhirnya payudara yang
memang sudah tidak terlalu kencang tapi cukup besar itu
kuremas2 bergantian kiri dan kanan. Saat itu mulutnya
menggigit bibirku, aku terkaget2, dan dengan cepat
kutanggalkan daster dan BHnya dan ia kutelentangkan
dikasurku. Ia rebah di kasurku dengan hanya mengenakan
celana dalam yg sudah tua dan sedikit lubangnya di bagian
selangkangannya. Aku langsung menggumulinya dengan
mulutku langsung menuju mulutnya. Ia sempat
melenguhkan suara yg sepertinya menyebut namaku. Aku
tidak peduli. Mulutku bergeser ke lehernya dan kudengar ia
berkata dgn tidak jelas …. ?aduh kenapa kita jadi begini??.
Aku tdk peduli dan mulutkupun bergeser ke payudaranya
secara bergantion. Akhirnya suaranya yg awalnya seperti
keberatan menjadi berganti dengan lenguhan dan desahan
yg lirih.
Aku bangkit dr badannya sejenak utk melepaskan celanaku
sampai akupun telanjang bulat. Kulihat ia sedikit kaget dan
matanya terbuka melihatku seolah2 tak rela aku
melepaskan tubuhnya. Namun secepat kilat setelah aku
telanjang bulat aku kembali menggumulinya dan melumat
bibirnya habis2an. Kedua tanganku merangkulnya dengan
memegang erat bahu dan belakang kepalanya. Kupeluk ia
erat2 dan iapun membalas ciuman bibirku dengan hangat
bahkan liar. Matanya terpejam dan kedua tangannyapun
memeluk diriku dan kadang megusap punggungku. Mulutku
beralih ke payudaranya. Sekarang aku baru bisa melihat
jelas bentuk payudara dan tubuhnya yg lain. Memang bukan
bentuk yg ideal sebagaimana umumnya diceritakan di
cerita2 saru lainnya. Payudaranya memang besar (aku
tidak tau ukurannya) tapi sedikit turun dan tdk kencang.
Tubuhnya masih proporsional walaupun cenderung gemuk
dengan adanya lipatan2 lemak di pinggangnya dan perut yg
kendur karena bekas melahirkan (mungkin), namun kulitnya
begitu halus. Mulutku lalu melumat puting payudaranya yg
kiri dan tangan kiriku meremas payudara yg kanan. Sedang
tangan kananku bergerilya ke selangkangannya dan
mengusap2 bagian yg masih terbungkus celana dalam
tersebut. Jari2 tanganku menemukan lubang pada robekan
celana dalamnya yg sudah tua sehingga jari2ku tsb bisa
mengakses ke bagian selangkangannya yang mulai lembab
pd rambutnya yg kurasakan cukup lebat. Jari2 kananku
memainkan klitorisnya dan kadang2 kumasukkan ke dalam
lubangnya sambil menggesaek2annya. Kurasakan desahan
dan lenguhannya sedikit lebih keras menceracau. Sekilas
kulihat kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan
pelan tapi mulai liar. Tangan kirinya dia angkat sehingga
jarinya ada didekat telinga kirinya sambil meremas2 seprai
dan ujung bantal tidak karuan. Tangan kanannya mengusap
kepala dan menarik2 rambutku.
Akupun mulai tdk bisa menahan diri lagi karena penisku
sudah berdiri tegak sejak tadi. Ukuran penisku biasa2 saja
(sebetulnya aku agak heran dgn ceritaa erotis yg bilang
sampai 20 cm, aku tdk pernah mengukur sendiri). Kutarik
celana dalamnya sampai lepas. Kemudian aku melepaskan
tubuhnya dan mengambil posisi di antara dua pahanya.
Waktu kulepas tubuhnya sejenak tadi ia sempat tersetak
dan matanya terbuka seolah2 bertanya kenapa. Tapi begitu
melihat aku sudah dalam posisi siap mengeksekusi dirinya
iapun mulai memejamkan matanya lagi. Sambil kuremas2
payudaranya sebelum memasukan rudalku ke liangnya aku
sedikit berbasa basi dan menanyakan apa ia ikhlas aku
setubuhi malam ini. Dengan lirih ia mempersilakan dan
bibirnya sedikit tersenyum. Kedua tangannya menarik
badanku dan akupun mulai memasukkan penisku ke
lubangnya. Walaupun sudah lembab dan ia pernah
melahirkan, ternayata aku tdk bisa langsunga memasukkan
penisku. Sampai2 tangan wanita yg telah lama menjanda
dan kehidupan sehari2nya begitu kolot ini ikut membantu
mengarahkan rudalku ke lubangnya. Rupanya nafsunya
sudah membuat ia terlupa.
Di luar terdengar hujan mulai turun dengan lebat menambah
liarnya suasana di kamarku dan pintu kamarku masih
terbuka krn aku yakin tdk ada siapa2 lagi di rumah tipe 60
milik orang tuaku ini. Ujung rudalku mencoba merangsek
kelubangnya scr pelan2 dgn gerakan maju mundur dan
kadang2 berputar di area mulut lubangnya. Tidak terlalu
lama rudalku mulai menembus liang senggamanya.
Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan. Matanya merem dan
kadang setengah terbuka. Tangannya ke sana kemari
kadang meremas seprai dan ujung bantal, kadang meremas
rambutku dan kadang mengusap punggung dan bahkan
mencakar punggung atau dadaku. Pinggulnya kadang
menyentak maju menuju rudalku seolah2 sangat ingin agar
rudalku segera masuk. Akhirnya rudalku yg sudah masuk
sepertiganya ke liang senggamanya kucabut tiba2. Terlihat
ia kaget dan membuka matanya. Ia memanggil namaku
dengan suara yg sudah dikuasai birahi dan bertanya ada
apa. Namun sebelum selesai pertanyaannya aku langsung
dengan cepat dan sedikit tekanan menghujamkan rudalku
ke liangnya yg walaupun sedikit seret tapi akhirnya bisa
masuk seluruhnya ke dalam lubangnya dan aku
memeluknya dengan mukaku begitu dekat dengan mukanya
sambil menatap wajahnya yg penuh kepasrahan namun
juga dikuasai birahi yg kuat.
Ia tersentak dan melenguh keras ………….. aaaaaaaahh ….
sejenak aku mendiamkannya dengan posisi seperti itu. Ia
mencoba menggerakkan pinggulnya maju dan mundur
dengan ruang gerak yg terbatas. Aku pun mulai
menggerakkan pinggulku ke belakang dan ke depan dengan
gerakan pelan tapi pasti. Tanganku mulai mempermainkan
kedua payudaranya dengan liar. Ia menceracau dan terus
mendesah dan pinggulnya mencoba utk membawa diriku
menggoyangnya lebih cepat lagi. Entah beberapa kali
namaku ia sebut. Ia juga menceracau ia sayang dan
mencintaiku. Dan aku yg sudah terbawa gelombang
birahipun tidak memanggil ia ?bibi? lagi (ia sebetulnya
terhitung nenekku, namun krn usianya tdk terlalu tua maka
ia sering dipanggil bibi). Ya … dalam keadaan birahi tsb aku
juga kadang menceracau memanggil namanya saja. Seperti
tdk ada perbedaan usia dan kedudukan di antara kami.
Entah berapa lama aku menggoyangnya dengan gerakan
yang sedang2 saja, tiba2 kedua tangannya merangkul
tubuhku utk lebih merapat dengan dia. Aku pun melepaskan
payudaranya dan juga akan merangkul tubuhnya.
Kurasakan betapa lunak dan empuk tubuhnya yg agak
gemuk dan memang sudah tidak terlalu sexy itu ketika
kudekap. Semua bagian tubuhnya tidak ada yg kencang
lagi. Namun kelunakan tubuhnya dan kehalusan kulitnya
ditambah pertemuan dan gesekan antara kulit dadaku dgn
kedua payudaranya membawa sensasi yg luar biasa bagi
diriku. Irama gerakan pinggulku dan pinggulnya tetap
stabil. Tiba2 ia mendesah dengan suara yg agak berbeda
dan kedua matanya memejam rapat2. Ia mempererat
dekapannya dan mengangkat pinggulnya agar
selangkangannya lebih rapat dengan selangkanganku.
Setelah itu kedua kakinya mencoba mengkait kedua kakiku.
Gerakan bibir dan raut mukanya menunjukan kelelahan
tercampur dengan kenikmatan yg amat sangat. Rupanya ia
sudah orgasme. Ia membuka matanya dan wajahnya ia
dekatkan ke wajahku sambil bibirnya terbuka dan
memperlihatkan isyarat utk minta aku cium. Bibirkupun
menyambar bibirnya dan saling melumat. Ketika lidahku
masuk kemulutnya, ternyata ia sudah bisa mengimbangi
walaupun dengan terengah2. Terbayang reaksinya waktu
orgasme tadi maka gairahku menjadi meningkat. Walaupun
tau ia sudah orgasme beberapa saat setelah itu aku mulai
meningkatkan kecepatan irama gerakan pinggulku utk
membawa rudalku menghujam2 liang senggamanya.
Walaupun sambil berciuman aku tetap mempercepat
gerakan pinggulku. Awalnya pinggulnya mencoba
mengikuti gerakan pinggulku. Namun tiba2 ia melepaskan
mulutku dan kepalanya bergerak kekiri dan diam dengan
posisi miring ke kiri sehingga aku hanya bisa mencium pipi
kanannya. Matanya merem melek. Dekapan tangannya
ketubuhkupun ia lepaskan dan ia angkat ke atas sehingga
jari2 kedua tangannya hanya meremas2 seprai di atas
kepalanya. Kedua kakinya berubah gerakan menjadi
mengangkang dengan seluas2nya. Aku jadi mempecepat
gerakan pinggulku. Bahkan gerakan rudalku menjadi lebih
ganas yaitu saat aku memundurkan pinggulku maka rudal
keluar seluruhnya sampai di depan mulut liang
senggamanya namun secepat kilat masuk lagi ke dalam
lubangnya dan begitu seterusnya namun tdk pernah
meleset. Tangan kiriku kembali meraba payu daranya dan
kadang2 ke klitorisnya. Ia menceracau dan kali ini tidak
menyebut namaku namun berkali bilang ?aduh …. ampun …
sayang …? atau ?kasian aku sayang? dan bahkan ia bilang
sudah tidak tahan lagi. Namun aku tau ia terbawa
kenikmatan yg luar biasa yang sekian tahun tidak pernah ia
rasakan. Malam dingin dan AC di kamarku tdk bisa
menahan keluarnya keringat di tubuh kami.
Tiba2 kembali ia melenguh, kali ini lebih keras dan
mulutnya maju mencari bibirku. Ya, ia kembali orgasme.
Aku tidak menghiraukan mulutnya namun lebih
berkosentrasi utk mempercepat gerakan pantatku sambil
aku putar. Putus asa ia mencoba mencium bibirku ia rebah
kembali, namun pd saat itu akupun mencapai puncaknya
dan rudalku menyemburkan sperma yang banyak ke liang
senggamanya. Sementara liang senggamanya berdenyut
menerima sperma hangatku. Aku terkulai di atas tubuhnya
dengan rudalku masih di dalam liang senggamanya. Kami
berpelkan dgn sangat erat seolah2 tubuh kami ingin
menjadi satu. Kami berciuman dan saling membelai.
Berkali2 kami saling mengucapkan sayang. Iapun
mengungkapkan betapa bahagianya ia krn selain bisa
menolongku menyalurkan libidoku, juga ia merasa
terpuaskan kebutuhan yang tdk pernah ia rasakan sekian
tahu. Apalagi ketika setelah itu ia semapat bercerita betapa
almarhum suaminya begitu kolot dalam bercinta dan
sekedar mengeluarkan sperma saja. Ia baru tau bahwa
bercinta dengan laki2 dapat lebih nikmat dibanding yg
pernah ia rasakan.
Kami tertidur sambil berpelukan. Paginya ketika terbangun
jam 8 pagi kami bercinta lagi dengan sebelumnya menelpon
ke tempat diklatnya utk memberitahukan bahwa ia tdk enak
badan. Ia adalah tipe wanina yg juga agak kolot. Beberapa
variasi ia lakukan dgn kikuk. Ia sering tdk bersedia bila
vaginanya aku oral dgn alasan tdk sampai hati melihat aku
yg banyak menolongnya mengoral vaginanya. Tapi ia mau
mengoral penisku kadang2. Biasanya ia mau kalau ia sudah
tdk bisa mengimbangi permainanku sedang aku masih mau
bercinta.
Selama sebulan ia tinggal di rumahku dan kami sudah
seperti suami istri …. bahkan percintaan kami sering lebih
panas. 2 hari setelah percintaan kami yg pertama aku
malah sempat mengantar ia ke dokter utk pasang spiral
agar tdk terjadi hal2 yg tdk diinginkan. Hal yg kusuka
darinya adalah ia ternyata pandai menyembunyikan
hubungan kami. Jadi bila ada tamu atau famili datang ke
rumahku, sikap kami biasa2 saja. Memang aku sempat
mendoktrin dia bhw hubungan kami ini adalah hubungan
terlarang, namun krn awalnya menolongku maka tdk apa2
dilanjutkan krn ia harus mengerti dgn kebutuhanku sbg
laki2 drpd aku kena penyakit bercinta di luaran maka ia tdk
perlu tanggung2 menolongku. Selain itu hal yg kusukai dr
dia adalah sikapnya yg berbakti kepadaku bila kami berdua
saja. Hampir semua permintaanku mau ia terima selama ia
anggap permainan normal. Ia bilang itu ia lakukan krn aku
banyak menolongnya.
Kadang2 aku memutarkan kaset video BF utk
memperlihatkan beberapa variasi padanya. Aku bahkan
sempat melakukan penetrasi di anusnya. Sebetulnya
kesediaannya utk disodomi itu dilakukan dgn terpaksa krn
pd saat kami melakukan foreplay ternyata ia menstruasi.
Melihat aku sudah di puncak birahi ia mencoba
melakukannya dengan tangan dan mulut tapi tdk berhasil
krn ia mmg tdk terlalu lihay. Akhirnya dengan dibantu hand
body cream maka anusnya lah yg jadi sasaranku.
Sebetulnya aku kasian juga melihat ia menitikan airmata
waktu aku mulai menusukan rudalku ke anusnya. Tapi
karena aku sudah berada di ujung kenikmatan maka aku
tetap melakukannya.
Krn di rumah hanya kami berdua maka kami melakukannya
di mana saja, bisa di kamar mandi, bisa di depan TV, dan
lainnya. Hal yg paling mengesankan adalah suatu hari pada
saat saya pulang jam istirahat siang, ternyata iapun baru
pulang juga utk istirahat di rumah krn ada informasi
instrukturnya akan datang terlambat sekitar setengah atau
satu jam. Mendengar penyampaiannya itu aku langsung
mutup pintu rumah dan menyergapnya. Aku baringkan ia di
atas hambal di ruang tengah depan TV. Ia gelagapan dan
berteriak2 senang sambil berpura2 protes. Aku hanya
menurunkan celana tidak sampai lepas dan iapun cuma
kusingkapkan rok panjangnya dan melepaskan celana
dalamnya. Baju PNS nya hanya kubuka kancingnya dan
menarik BHnya ke atas. Kerudungnya aku biarkan
terpasang. Sehingga kamu bercinta dgn tdk sepenuhnya
telanjang. Mungkin krn agak tegang permainan kami
menjadi lebih lama dr permainan biasanya. Akhirnya kami
istirahat di rumah dengan hanya makan nasi dan telur
dadar krn waktu istirahat tersita utk bercinta.
Pada saat ia kembali ke kotanya kami masih berhubungan
sebulan 3-4 kali dalam sebulan. Namun setelah aku pindah
ke kota lain hubungan kami jadi sangat jarang. Terakhir ia
menikah lagi dengan seorang duda yang usianya 7 tahun
lebih tua dari dia. Itupun ia terima setelah aku yg
mendorong utk menerimanya wkt ia menceritakan bhw ada
orang yg mau melamarnya.
Demikianlah ceritaku. Sebetulnya sampai saat ia
bersuamipun aku tau kalau aku datang kepada dirinya dan
ia punya waktu maka ia akan bersedia melayaniku. Hanya
aku tdk mau mengambil resiko yg lebih tinggi.

Itil Reviews
cerita dewasa : cinta terlarang yang kunikmati | lubangmanja | 4.5